Sebuah ucapan yang terasa keterlaluan. Sebuah tindakan yang menurut kita nggak pantas atau mungkin sesuatu yang bagi kita begitu menyakitkan sampai rasanya sulit untuk melupakannya.
Tapi kemudian kita berhadapan dengan satu kenyataan yang nggak selalu mudah diterima. Nggak semua orang memiliki ukuran yang sama tentang apa yang dianggap salah, menyakitkan, atau tidak bisa ditoleransi.
Bukan berarti seseorang selalu benar hanya karena ia merasa tindakannya biasa saja, tapi bisa jadi di dalam dunia yang ia pahami, hal tersebut memang tidak memiliki bobot sebesar yang kita berikan. Karena setiap orang tumbuh dengan inner values yang berbeda.
Kita dibentuk oleh keluarga, lingkungan, pengalaman, hubungan, kebiasaan, bahkan luka yang pernah kita alami. Semua itu perlahan membentuk cara kita melihat dunia.
Ada orang yang menganggap bohong sekecil apapun sebagai sesuatu yang serius, ada pula yang tumbuh dengan pemahaman bahwa selama kebohongan itu tidak menimbulkan masalah besar, maka tidak perlu dipersoalkan.
Ada orang yang merasa sebuah candaan sudah melewati batas, sementara bagi orang lain itu candaan biasa yang bahkan tidak terpikirkan untuk menyakiti siapapun.
Dan disinilah sering kali kekecewaan itu muncul...
Nggak selalu karena seseorang sengaja ingin menyakiti kita, tapi karna kita berharap mereka memiliki cara yang sama dalam memahami perasaan kita.
Akhirnya kita berfikir... "kalau dia tahu aku akan sesakit ini, seharusnya dia tidak melakukan itu"
Tapi mungkin dari sudut pandangnya, dia bahkan nggak pernah membayangkan bahwa hal tersebut bisa terasa sebesar itu bagi kita. Dan sebaliknya, mungkin ada hal yang kita lakukan dengan niat biasa saja, tetapi ternyata meninggalkan luka yang cukup dalam bagi orang lain. Dan nggak semuanya ada maksud lain entah slah satu dari kita lebih sensitif atau yang lainnya lebih tidak punya perasaan.
Kita hanya datang dari dunia yang berbeda, namun memahami perbedaan ini bukan berarti kita harus memaklumi semuanya. Ini bagian yang sering keliru yang pada akhirnya kita mengabaikan perasaan kita sendiri. Memahami alasan seseorang melakukan sesuatu tidak sama dengan membenarkan tindakannya.
Kita bisa memahami bahwa seseorang tidak bermaksud menyakiti kita, tetapi tetap mengatakan bahwa kita terluka. Kita bisa memahami bahwa menurutnya itu hal kecil, tetapi tetap bagi kita itu adalah sesuatu yang besar. Dan kita juga berhak memiliki batas.
Pada akhirnya, hubungan apapun... pertemanan, keluarga, maupun pasangan... bukan tentang menemukan seseorang yang memiliki inner values yang 100% sama dengan kita. Mungkin yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang ketika mengetahui bahwa sesuatu menyakiti kita, dia mau memahami, mau belajar, dan mau menyesuaikan diri. Karena kita nggak selalu bisa meminta orang lain melihat dunia sama persis seperti kita melihat dunia.
Bukan berarti seseorang selalu benar hanya karena ia merasa tindakannya biasa saja, tapi bisa jadi di dalam dunia yang ia pahami, hal tersebut memang tidak memiliki bobot sebesar yang kita berikan. Karena setiap orang tumbuh dengan inner values yang berbeda.
Kita dibentuk oleh keluarga, lingkungan, pengalaman, hubungan, kebiasaan, bahkan luka yang pernah kita alami. Semua itu perlahan membentuk cara kita melihat dunia.
Ada orang yang menganggap bohong sekecil apapun sebagai sesuatu yang serius, ada pula yang tumbuh dengan pemahaman bahwa selama kebohongan itu tidak menimbulkan masalah besar, maka tidak perlu dipersoalkan.
Ada orang yang merasa sebuah candaan sudah melewati batas, sementara bagi orang lain itu candaan biasa yang bahkan tidak terpikirkan untuk menyakiti siapapun.
Dan disinilah sering kali kekecewaan itu muncul...
Nggak selalu karena seseorang sengaja ingin menyakiti kita, tapi karna kita berharap mereka memiliki cara yang sama dalam memahami perasaan kita.
Akhirnya kita berfikir... "kalau dia tahu aku akan sesakit ini, seharusnya dia tidak melakukan itu"
Tapi mungkin dari sudut pandangnya, dia bahkan nggak pernah membayangkan bahwa hal tersebut bisa terasa sebesar itu bagi kita. Dan sebaliknya, mungkin ada hal yang kita lakukan dengan niat biasa saja, tetapi ternyata meninggalkan luka yang cukup dalam bagi orang lain. Dan nggak semuanya ada maksud lain entah slah satu dari kita lebih sensitif atau yang lainnya lebih tidak punya perasaan.
Kita hanya datang dari dunia yang berbeda, namun memahami perbedaan ini bukan berarti kita harus memaklumi semuanya. Ini bagian yang sering keliru yang pada akhirnya kita mengabaikan perasaan kita sendiri. Memahami alasan seseorang melakukan sesuatu tidak sama dengan membenarkan tindakannya.
Kita bisa memahami bahwa seseorang tidak bermaksud menyakiti kita, tetapi tetap mengatakan bahwa kita terluka. Kita bisa memahami bahwa menurutnya itu hal kecil, tetapi tetap bagi kita itu adalah sesuatu yang besar. Dan kita juga berhak memiliki batas.
Pada akhirnya, hubungan apapun... pertemanan, keluarga, maupun pasangan... bukan tentang menemukan seseorang yang memiliki inner values yang 100% sama dengan kita. Mungkin yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang ketika mengetahui bahwa sesuatu menyakiti kita, dia mau memahami, mau belajar, dan mau menyesuaikan diri. Karena kita nggak selalu bisa meminta orang lain melihat dunia sama persis seperti kita melihat dunia.
Ya mungkin dia nggak salah menurut dunianya, tapi apakah kita harus mengorbankan nilai dan batasan kita hanya karena dunianya berbeda?
Tapi kita bisa melihat bagaimana mereka bersikap setelah mengetahui bahwa dunia kita ternyata berbeda. Barangkali kedewasaan itu bukan tentang tidak pernah saling menyakiti, melainkan tentang mampu untuk berkata,
Tapi kita bisa melihat bagaimana mereka bersikap setelah mengetahui bahwa dunia kita ternyata berbeda. Barangkali kedewasaan itu bukan tentang tidak pernah saling menyakiti, melainkan tentang mampu untuk berkata,
"Aku mungkin nggak akan melihatnya seperti kamu, tapi sekarang aku tau bahwa itu menyakitimu, dan aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya"
Pada akhirnya, perbedaan cara merasa bukanlan masalah besar, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sudah tau bagaimana kita terluka, tetapi tetap memilih untuk nggak peduli.
~Re
~Re