Kebaikan Nggak Selalu di Balas Orang yang Sama

Disini ku mau cerita aja tentang apa yang aku alami dan gimana tanggapan orang lain memandang diriku yang menganggap diriku terlalu bodoh dan naif dalam membantu seseorang atau bahkan mudah diperdaya hanya dengan drama hidup yang seolah tidak berpihak pada seseorang itu.

Pernah nggak sih, kita berbuat baik ke orang dengan tulus tanpa pamrih tapi justru nggak mendapat balasan baik dari orang itu?, bahkan kadang orang yang kita bantu malah pergi, berubah, seolah lupa atau bahkan malah justru tambah memanfaatkan kita dan berniat jahat sama kita.
Rasanya pasti campur aduk. Ada kecewa, bingung, bahkan mungkin kita jadi bertanya-tanya "Untuk apa ya aku baik ke dia kemarin kalau akhirnya malah seperti ini?"

Ibuku pernah bilang "Kalau kamu mampu bantu orang lain, bantu aja, siapa tau disaat kamu kesusahan ada aja yang batu walaupun bukan dari orang yang pernah kamu bantu". Dari pesan ibuku itu aku jadi sadar satu hal Kebaikan itu nggak selalu kembali lewat orang yang sama. 

Kebaikan itu bukan transaksi, sering tanpa sadar kita memperlakukan kebaikan itu seperti investasi, memberi dengan harapan suatu saat orang itu akan membalas. Tapi hidup di dunia ini nggak bekerja seperti sistem "aku bantu kamu, kamu bantu aku."

Kebaikan sejatinya bukan transaksi, lebih seperti energi yang kita lepaskan ke dunia dan dunia punya caranya sendiri untuk mengembaikannya. Mungkin kita membantu seseorang hari ini, tapi balasan itu datang dari orang lain dilain waktu yang berbeda. Bisa dari kita dipertemukan kepada orang yang lebih baik, kesempatan atau peluang yang selalu datang tanpa kita sangka, atau bahkan pertolongan di saat kita benar-benar butuh.

Kadang kita terlalu fokus pada siapa yang membalas, sampai lupa melihat bagaimana kebaikan itu kembali. Belajar ikhlas tanpa menghapus rasa, mungkin ini sangatlah berat tapi kita mampu. Ikhlas bukan berarti kita nggak boleh kecewa. Kita tetap manusia, wajar kalau merasa sedih. Ikhlas berarti kita memilih untuk tetap baik, tanpa menjadikan pengalaman buruk sebagai alasan untuk berubah jadi pahit.

Kita boleh banget merasa sedih dan kecewa, tapi jangan sampai rasa itu mengubah siapa kita. Sudah selayaknya orang datang dan pergi, tapi nilai akan tetap tinggal. Orang bisa berubah, menjauh, atau bahkan melupakan. Tapu nilai kebaikan yang kita lakukan tetap ada di dalam diri kita. Justru hal itulah yang paling penting. Karena pada akhirnya, kebaikan lebih mencerminkan siapa kita, bukan siapa mereka.

Jadi aku akan tetap memegang pesan ibuku, dan kalau aku merasa kebaikanku tidak dihargai oleh orang yang sama, akan aku ingat satu hal, bukan berarti kebaikanku sia-sia atau aku melakukan kebaikan ke orang yang salah dan semua itu bukan salahku untuk menjadi baik atau bahkan bukan karna aku terlalu naif dan bodoh menganggap semua orang perlu di tolong, tapi selama aku mampu aku akan melakukan itu. 

Mungkin jalannya hanya berbeda
Mungkin waktunya belum sekarang
Atau mungkin, balasannya datang dalam bentuk yang tidak aku duga.

Tetap jadi orang baik, bukan karena orang lain, tapi karena itu pilihan yang ada di diri kita masing-masing.


~Re

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama