Kenapa Perempuan Selalu Salah?



Aku baru saja membaca berita yang sangat menyedihkan Mahasiswa UIN Bacok Mahasiswi Pakai Kapak karena Cinta di Tolak, aku membaca komen di setiap postingan berita, tidak sedikit yang menyalahkan korban karena bersikap ramah terlalu firendly kepada pelaku, yang membuat pelaku berfikir bahwa korban memberikan harapan kepada pelaku untuk sebuah hubungan yang lebih jauh.

Aku jadi merasa kita sebagai perempuan selalu salah dalam bersikap, dan itu sangat melelahkan.
Kita Friendly, dianggap memberi harapan atau bahkan orang anggap kita sudah jatuh cinta, padahal friendly itu udah jadi bare minimun kita sebagai manusia dalam bersosialisasi dan itu normal.
Kita cuek dianggap merasa paling tinggi dan orang bakal mikir kita sombong.
Kita banyak senyum dicap genit dan gampangan.
Kita menjaga jarak disebut tidak tau diri.

Pertanyaannya bukan lagi "kita salah dimana??"
Tapi kenapa standar untuk perempuan selalu berubah-ubah sesuai kenyamanan orang lain?
Sebagai perempuan, rasanya kita tumbuh dengan satu pesan yang sama "Jangan bikin orang nggak nyaman".

Kita diajarkan menolak dengan lembut, marah tanpa suara, tegas tapi tetap senyum, menjaga jarak tanpa terlihat dingin.
Dan jujur saja....itu melelahkan.
Karena setiap langkah seperti ujian, terlalu hangat salah, terlalu dingin juga salah.
Seolah-olah keberadaan kita harus selalu disesuaikan dengan persepsi orang lain.

Yang paling menyakitkan bukan tuduhannya, yang menyakitkan adalah momen ketika kita mulai menyalahkan diri sendiri
"Apa aku terlalu friendly?"
"Apa aku terlalu kasar?"
"Apa aku terlalu banyak senyum sama dia?"
Kita jadi mengkoreksi diri bukan karena kita salah, tapi karena kita takut disalahkan oleh persepsi orang-orang.
Dan tanpa sadar kita jadi mengecilkan diri, mengurangi cahaya kita, mengurangi suara kita, dan bahkan mengurangi kehangatan kita. Hanya supaya dianggap Pantas.

Untuk kita para perempuan, ingatlah...kita tidak menjanjikan apa-apa dengan senyum kita.
Kita tidak pernah mengundang siapapun hanya karena kita bersikap sopan.
Kita tidak pernah meminta untuk ditafsirkan.
Kita adalah kita.
Dan kalau ada yang salah mengartikan, itu bukan selalu karena kita dan bukan salah kita.

Kita tidak diciptakan untuk selalu membuat orang lain merasa nyaman.
Kita bukan karakter pendukung dalam cerita orang lain.
Kita hanya manusia biasa dan kebetulan kita perempuan.
Kita boleh ramah dengan siapapun tanpa tertuduh.
Kita boleh cuek tanpa merasa bersalah dari siapapun.
Kita boleh punya batasan tanpa harus menjelaskan.
Dan mungkin kita memang tidak pernah salah.
Mungkin kita hanya hidup di dunia yang masih terbiasa menyalahkan perempuan.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama