Nyatanya, nggak semua orang mendengar untuk memahami.
Sebagian hanya ingin tau, sebagian lain sekadar ingin melihat bagaimana seseorang bisa retak dan tetap berdiri.
Di titik tertentu, aku belajar bahwa luka tidak selalu meminta simpati.
Beberapa justru meminta batas.
Batas tentang siapa yang boleh tau, sejauh apa akses diberikan, dan kapan aku berhenti menjelaskan diriku pada dunia yang tidak benar-benar peduli.
Membuka diri bukan kewajiban, itu pilihan.
Dan pilihan itu seharusnya diberikan pada orang-orang yang aman, bukan pada mereka yang hanya hadir saat ada cerita sedih untuk dikonsumsi.
Aku nggak menutup diri.
Aku hanya belajar menyaring ada perbedaan besar antara melindungi diri dan menghindar.
Yang satu lahir dari kesadaran, yang lain dari ketakutan.
Dan aku memilih yang pertama.
Hari ini, aku memahami satu hal penting,
Tidak semua luka butuh suara
Sebagian cukup dijadikan pelajaran.
Sebagian lagi, dijadikan batas agar tidak terulang.
Karena bertahan tidak selalu tentang seberapa banyak yang kita ceritakan.
Tetapi seberapa bijak kita menjaga diri.
